Setelah memasuki
era kehidupan dengan sistem komunikasi yang bersifat global, dengan kemudahan dalam
mengakses informasi baik melalui media cetak, internet, TV, komik, DVD dan media
ponsel berkeliaran di masyarakat, tentunya memberikan dampak manfaat yang besar
bagi kehidupan. Setiap fenomena yang ada terjadi di dunia, tentunya memberikan
nilai positif dan negatif.
Sangat tergantung terhadap pola pikir dan landasan
hidup pribadi individu. Setiap individu akan merasa senang dengan kehadiran
produk / layanan canggih dan praktis. Tidak terkecuali teknologi internet yang merobohkan
batas dunia dan media TV yang menyajikan hiburan, informasi dan berita aktual.
handphone pun yang telah membantu komunikasi antar manusia untuk kapan saja walaupun
satu dengan yang lainnya berada di dunia berjahuan (Utara-Selatan atau Timur –
Laut).
Penggunaan
ponsel telah menurunkan interaksi manusia secara langsung pada Gaya Hidup Remaja. Hal ini cenderung
membuat pola hidup menjadi indivualistis. Dampak ini tentunya dapat dikurangi
bahkan dihindari saja si pengguna memiliki pengetahuan, etika serta sikap kuat
(bijak-positif) untuk memanfaatkan sesuatu dengan selektif dan tepat guna.
Penyaring internal (pemahamam, sikap dan etika) anak dan remaja kita saat ini masih
sangat rapuh.
Di era kompleksitas arus kehidupan, orang tua (terutama perkotaan)
telah kehilangan daya untuk mendidik dan membangun keluarga bagi anak-anak
mereka. Hal ini diperparah dengan “racun-racun” yang diterima oleh anak kita
saat ini. Adegan kekerasan, mistik, seksual dan hedonisme di TV, internet dan koran,
serta sistem pendidikan sekolah yang gagal dalam membangun karakter anak kita.
Berita
siswa-siswi berprestasi dalam ajang seni, penelitian, olimpiade sains dan
olahraga, anak-anak muda Indonesia terancam dalam masa chaos. Jutaan remaja menjadi
korban perusahaan rokok dan nikotin. Lebih dari dua juta remaja Indonesia
ketagihan dalam menggunakan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8 rb remaja
terdiagnosis AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral anak dalam hubungan
seksual telah Gaya Hidup Remaja pada saat ini dan telah memasuki tahap yang sangat mengawatirkan. Lebih dari 60 % remaja
SMP serta SMA Indonesia, sudah tak perawan. Perilaku hidup bebas sudah meruntuhkan
sendi-sendi kehidupan masyarakat ini.
Berdasarkan survei Komnas Perlindungan Anak yang bekerja sama dengan
Lembaga pengakuan remaja menyatakan:
- 93,7 % anak
SMP - SMU pernah melakukan petting, ciuman serta oral seks.
- 62,7 % anak
SMP mengaku sudah tak perawan.
- 21,2 % persen
SMA mengaku melakukan aborsi.
- Dari 2 jt
wanita Indonesia yang melakukan aborsi, 1 jt adalah remaja perempuan.
- 97 % pelajar
SMP - SMA mengaku suka dalam menonton film porno/ blue.
Sudah seharusnya
kita semua kembali ke akar budaya bangsa ini. Jauh sebelumnya ada, bangsa
Indonesia adalah bangsa yang mempunyai nilai akar (root value) budaya yang
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta kesusilaan seperti tertuang di dalam
falsafah dan nilai Pancasila kita. Kondisi yang menimpa generasi saat ini,
harus dibina dan dididik agar mereka semua dapat menjadi pemimpin yang mempunyai
moralitas tinggi untuk membangun bangsa serta negara.
Seluruh pihak
haruslah bertanggung jawab. Disamping orang tua, masyarakat berperan sangatlah
penting. Sistem pendidikan juga harus diubah. Jangan naikkan anggaran dalam
pendidikan tanpa meningkatkan nilai sesungguhnya dari pendidikan ini perbanyak
materi tentang ilmu agama yang bisa membentengi diri anak-anak kita. Pemerintah
sudah seharusnya tegas dalam melaksanakan undang-undang dan peragang, para
pengusaha dan web internet harus berhenti menyebarkan sesuatu yang merusak
(karena generasi muda masih sangat rapuh).
Hal-hal yang harus dilakukan bangsa ini:
- Pemerintah
filtrasi tegas menindak sinetron, film serta iklan yang berisikan kekerasan
seksual, pergaulan bebas, ramalan, mistis-religi, kekerasan-religi serta judi.
- Menindak
tegas orang-orang yang melanggar UU Perlindungan Anak
- menfilter /
menghapus / memboikot situs-situs porno.
- Membangun/ mendirikan
Youth Centre, pusat pendidikan serta kreasi bagi remaja agar beraktivitas dan
selalu berfikir positif.
- Mengontrol
promosi (iklan) serta peredaran rokok.
- Mencegahan dan
menindak para eksploitasi seksual komersial anak, perdagangan anak dan narkoba.
- Edukasi kepada
masyarakat bahwa jangan mengasingkan anak (korban), bantulah mereka untuk
keluar dari masalah yang dihadapinya (material dan moril).